STUDI KASUS

Checkout WooCommerce Ala Shopify untuk RWB Auto Shop

Willya Randika |
Checkout WooCommerce RWB Auto Shop setelah redesign ala Shopify

Pada proyek ini, fokusnya hanya satu halaman: checkout. Namun justru di halaman inilah konversi paling ditentukan.

Klien saya, Pak Maikel, sudah partnership dengan Harun Studio sejak Desember 2024. Kami sudah mengerjakan banyak proyek bersama, mulai dari maistroaudio.com, autozilla.id, presisi3d.com, hingga rwbautoshop.com. Beliau juga termasuk klien yang sangat aktif terlibat dari awal: ikut menyusun wireframe, struktur konten, sampai validasi desain akhir.

Untuk studi kasus kali ini, project paling recent yang kami eksekusi adalah membuat checkout page WooCommerce di rwbautoshop.com agar terasa seperti checkout Shopify: lebih clean, lebih fokus, dan lebih mudah dipahami user.

Ringkasan Singkat & Key Takeaways

Objective

Checkout WooCommerce terasa ala Shopify

Pendekatan

Fluid Checkout Lite + custom layer

Scope Teknis

Custom PHP, JavaScript, dan CSS

Fokus UX

Minim distraksi, CTA jelas, mobile-first

Custom Fitur

Local pickup multi-provinsi

Ingin checkout WooCommerce Anda lebih fokus konversi? Konsultasi gratis dulu untuk lihat bottleneck utamanya.

Kondisi Awal: Kenapa Checkout Bawaan WooCommerce Perlu Dirombak?

Secara default, checkout WooCommerce punya karakteristik yang sebenarnya wajar untuk banyak use case, terutama marketplace atau toko yang butuh data sangat lengkap sejak awal. Tetapi untuk brand store atau niche store, alur ini sering terasa terlalu “berat”.

Ciri umum checkout bawaan WooCommerce:

  • Form cukup panjang (nama, alamat lengkap, kode pos, dan field lain tampil sekaligus).
  • Field kupon langsung terlihat.
  • Layout bisa terasa padat dan kurang rapi di beberapa device.
  • Terlalu banyak elemen dalam satu layar, sehingga user mudah terdistraksi.

Sementara itu, checkout Shopify dikenal lebih:

  • Clean dan minimal.
  • Fokus ke aksi beli.
  • Lebih mudah dipahami user mobile.
  • Memberi kesan visual modern dan terpercaya.

Jadi tujuannya bukan sekadar “dibikin lebih simpel”, tetapi membuat alur checkout yang:

  1. Lebih fokus ke konversi.
  2. Lebih kuat secara psikologis (user merasa prosesnya jelas dan hampir selesai).
  3. Lebih nyaman di mobile, karena mayoritas order sekarang datang dari HP.

Strategi: Kenapa Tidak Buat Plugin Custom dari Nol?

Untuk mengejar hasil visual yang mendekati Shopify, membuat plugin custom dari nol sebenarnya memungkinkan. Tapi secara bisnis, itu bukan opsi paling efisien untuk project ini karena:

  • Waktu pengembangan lebih panjang.
  • Biaya implementasi lebih tinggi.
  • Beban maintenance jangka panjang juga lebih besar.

Karena itu saya memilih strategi hybrid: memakai plugin yang sudah ada sebagai fondasi, lalu ditimpa custom sesuai kebutuhan.

Setelah evaluasi beberapa opsi plugin checkout di WordPress.org, saya memilih Fluid Checkout Lite sebagai base layer untuk rwbautoshop.com.

Alasannya:

  • Versi gratisnya sudah cukup solid untuk jadi fondasi.
  • Bisa mengatur struktur checkout lebih rapi untuk single-step layout.
  • Memungkinkan pengaturan visibilitas elemen penting (field, order summary, dll.).
  • Masih fleksibel untuk ditingkatkan lewat custom code.

Implementasi Teknis

Semua custom code saya tempatkan di child theme agar maintainable dan aman saat update tema utama.

Struktur kode checkout custom di child theme

Header Checkout dengan GeneratePress Elements

Selain area form checkout, saya juga menyesuaikan bagian header agar pengalaman visual dari awal halaman langsung konsisten dengan gaya checkout yang lebih clean. Header ini saya bangun menggunakan GeneratePress Elements, sehingga tetap ringan, mudah dikontrol, dan tidak perlu menambah page builder berat hanya untuk kebutuhan layout header checkout.

Dengan pendekatan ini, header bisa dibuat lebih fokus (tanpa distraksi berlebihan), tetap brand-consistent, dan lebih mudah dikelola untuk penyesuaian berikutnya.

Header checkout page dengan GeneratePress Elements

Layer implementasi yang saya kerjakan:

  1. PHP customization
    Mengatur field checkout, urutan elemen, dan logika output agar alur form lebih ringkas dan lebih fokus ke aksi beli.

  2. JavaScript customization
    Menangani perilaku interaktif di checkout supaya pengalaman user lebih halus, terutama saat berpindah fokus antarbagian di layar kecil.

  3. CSS customization
    Merapikan visual hierarchy, spacing, tipografi, dan gaya komponen agar tampilannya mendekati standar checkout ala Shopify: bersih, modern, dan dipercaya.

  4. Custom local pickup flow
    Saya juga menambahkan custom flow untuk pengiriman: pelanggan bisa memilih apakah pesanan dikirim atau diambil langsung di toko. Untuk opsi ambil di toko, pelanggan dapat memilih titik pickup berdasarkan berbagai pilihan provinsi di seluruh Indonesia.

Custom local pickup flow

Agar operasional tim tetap praktis, opsi local pickup ini juga dibuat mudah dikelola melalui CPT khusus Lokasi Pengambilan. Jadi admin tidak perlu edit kode untuk update titik pickup, cakupan provinsi, cakupan kota/kabupaten, estimasi, maupun pengaturan fallback.

Manajemen CPT Lokasi Pengambilan

Before vs After

Tampilan Desktop

Sebelum redesign, checkout desktop terasa padat dan kurang fokus.

Checkout WooCommerce sebelum optimasi (desktop)

Setelah implementasi, layout checkout desktop menjadi lebih clean dan lebih terarah ke aksi beli.

Checkout WooCommerce setelah redesign ala Shopify (desktop)

Tampilan Mobile

Perubahan paling terasa ada di mobile, karena mayoritas traffic order biasanya datang dari layar kecil.

Checkout WooCommerce mobile sebelum optimasi
Before — Mobile checkout masih padat dan kurang fokus.
Checkout WooCommerce mobile setelah redesign ala Shopify
After — Lebih ringkas, lebih jelas, lebih nyaman di mobile.

Dampak yang Terlihat

Walau project ini hanya satu halaman, dampaknya langsung terasa pada pengalaman checkout:

  • Tampilan checkout lebih premium dan lebih konsisten dengan brand.
  • User lebih cepat memahami langkah yang harus dilakukan.
  • Fokus user tetap di proses pembayaran, bukan terpecah oleh elemen yang tidak penting.
  • Pengalaman checkout di mobile terasa lebih ringan dan lebih nyaman.
  • Opsi fulfillment jadi lebih fleksibel berkat custom local pickup (kirim atau ambil di toko).

Pelajaran dari Proyek Ini

  1. Halaman checkout adalah halaman bisnis, bukan sekadar halaman form.
  2. Meniru “rasa” Shopify di WooCommerce lebih realistis dilakukan dengan strategi hybrid daripada membangun ulang semuanya dari nol.
  3. Fondasi plugin yang tepat + custom layer yang presisi sering jadi kombinasi paling efisien.

Saya juga akan menulis studi kasus lain dari rangkaian project Pak Maikel secara bertahap. Untuk saat ini, project checkout rwbautoshop.com ini jadi salah satu contoh terbaik bahwa satu halaman yang tepat bisa memberi efek besar pada kualitas pengalaman belanja.

Ingin Checkout WooCommerce Anda Dirombak Seperti Ini?

Jika checkout Anda saat ini masih terasa panjang, padat, dan kurang fokus konversi, kita bisa audit dulu lalu tentukan apakah cukup dioptimasi atau perlu redesign checkout menyeluruh.

Mulai dari konsultasi gratis, lihat jasa custom plugin WordPress untuk kebutuhan fitur spesifik seperti checkout custom, atau lanjut ke konversi website ke blocks dan redesign website untuk kebutuhan yang lebih luas.

Willya Randika

Willya Randika

Founder Harun Studio & web developer, blogger, serta hosting reviewer. Telah membantu pemilik bisnis meraih kesuksesan dengan design, development dan maintenance sejak 2021.

Artikel Terkait

Baca juga insight lain yang masih relevan dengan topik ini.