Kalau Anda lagi googling cara membuat website bisnis, biasanya yang dicari bukan tutorial klik-klik theme. Yang lebih sering ditanyakan di chat atau meeting: website jenis apa yang dibutuhkan, mulai dari mana, dan kapan harus minta bantuan orang teknis.
Saya menulis ini dari sisi orang yang sering duduk di diskusi itu. Bukan dari sisi “semua harus pakai jasa”, dan bukan juga “semua bisa sendiri dalam semalam”.
Mulai dari Tujuan, Bukan dari Template
Kesalahan paling umum: langsung pilih theme yang bagus di screenshot, baru kemudian berpikir soal tujuan.
Sebelum buka Canva, WordPress, atau chat AI, jawab tiga pertanyaan ini dulu:
- Apa yang ingin terjadi setelah orang membuka website? Kirim WhatsApp, isi form, beli produk, atau sekadar percaya bahwa bisnis Anda serius?
- Siapa yang paling sering datang? Calon klien B2B, pembeli retail, partner, atau pencari kerja?
- Siapa yang akan update konten bulan depan? Anda sendiri, admin kantor, atau tidak akan disentuh lagi setelah launch?
Jawaban jujur di atas menentukan hampir semua keputusan berikutnya. Termasuk budget dan timeline.
Pilih Jenis Website yang Cocok
“Website bisnis” itu payung besar. Di lapangan, yang biasanya dibutuhkan jatuh ke salah satu ini:
Company profile
Cocok jika bisnis Anda perlu etalase lengkap: tentang perusahaan, layanan, portofolio, tim, kontak. Calon klien sering cek website sebelum balas email atau WhatsApp.
Kalau ini yang Anda butuhkan, lihat juga halaman jasa website company profile.
Landing page
Cocok jika fokusnya satu kampanye atau satu penawaran. Satu pesan, satu tombol utama, minim distraksi. Biasanya dipakai untuk iklan Meta/Google, peluncuran produk, atau lead magnet.
Kalau Anda masih ragu bedanya dengan website biasa, bandingkan dengan kebutuhan company profile di atas, atau lihat jasa pembuatan landing page.
Toko online
Cocok jika transaksi terjadi di website sendiri: katalog, keranjang, checkout, pembayaran, ongkir. Ini sudah beda level dari company profile. Ada stok, order, dan risiko teknis yang lebih tinggi.
Detailnya ada di jasa pembuatan toko online.
Website custom / aplikasi
Cocok jika yang dibutuhkan bukan sekadar halaman informasi, tapi alur kerja: booking, portal klien, dashboard internal, integrasi sistem. Biasanya lebih lama dan biayanya lebih tinggi.
Kalau masih di tahap “butuh website dulu yang rapi dan bisa dipakai marketing”, jangan memaksakan custom dari hari pertama.
Urutan Kerja yang Masuk Akal
Ini alur yang biasanya saya sarankan ke owner yang baru mulai.
1. Susun struktur halaman
Untuk company profile standar, cukup mulai dari:
- Beranda
- Tentang
- Layanan
- Portofolio atau studi kasus
- Kontak
- Blog (opsional, kalau memang akan diisi)
Jangan kejar 15 halaman di versi pertama. Lebih baik 5 halaman jelas daripada 12 halaman setengah jadi.
2. Kumpulkan bahan konten
Website terlambat live hampir selalu karena konten, bukan karena “belum ketemu developer”. Siapkan dulu:
- Nama legal / brand yang dipakai publik
- Deskripsi layanan dalam bahasa customer, bukan bahasa internal
- Foto produk, proyek, atau tim yang layak tampil
- Nomor WhatsApp, email, alamat, jam operasional
- Logo dan panduan warna kalau ada
Kalau bahan ini belum ada, pembuatan website akan bolak-balik revisi tanpa arah.
Untuk banyak bisnis di Indonesia, WordPress masih pilihan paling masuk akal kalau konten sering berubah dan admin non-teknis yang pegang.
Kalau website lebih bersifat etalase marketing yang jarang diubah dan performa jadi prioritas tinggi, stack modern seperti Astro bisa lebih cocok. Perbandingan lebih dalam ada di WordPress vs Astro untuk website bisnis.
Yang penting: pilih platform karena cocok dengan siapa yang merawatnya, bukan karena sedang viral di Twitter.
4. Bangun, uji, baru launch
Sebelum domain dipasang dan diumumkan ke customer, cek minimal:
- Form kontak atau tombol WhatsApp benar-benar jalan di HP
- Halaman penting tidak pecah di layar kecil
- SSL aktif (gembok di browser)
- Kecepatan terasa wajar di koneksi mobile biasa, bukan cuma skor di satu tool
- Google Search Console sudah siap didaftarkan setelah live
Banyak website “sudah jadi” di laptop, tapi gagal di titik-titik di atas saat dibuka customer.
5. Siapkan perawatan setelah live
Website yang dibiarkan tanpa update, backup, dan monitoring biasanya baru terasa masalahnya setelah kena lambat, error, atau malware.
Kalau Anda ingin gambaran tugas rutinnya, baca panduan maintenance website.
DIY, AI, atau Jasa?
Tiga jalur ini sering dicampur, padahal beda tanggung jawabnya.
DIY murni
Masuk akal jika Anda punya waktu belajar, website belum jadi tulang punggung revenue, dan risikonya rendah kalau down sehari.
DIY dibantu AI
Bisa mempercepat draft copy dan layout awal. Tapi domain, hosting, form, SEO teknis, dan maintenance tetap harus ada yang pegang. Saya sudah bahas filter praktisnya di bikin website pakai AI: kapan cukup sendiri, kapan perlu developer.
Jasa profesional
Masuk akal jika waktu Anda lebih mahal daripada biaya pengerjaan, website terkait kredibilitas atau uang, atau Anda tidak ingin jadi admin teknis dadakan.
Di Harun Studio, jalur ini biasanya lewat jasa pembuatan website, dengan scope menyesuaikan jenis website di atas.
Anda juga bisa mulai draft sendiri, lalu minta finishing sebelum launch resmi. Itu sering lebih hemat daripada nekat live dengan website setengah matang.
Soal Biaya, Apa yang Mempengaruhi?
Angka pasti selalu tergantung scope. Yang biasanya menggeser harga:
- Jumlah halaman dan kompleksitas desain
- Apakah butuh toko, booking, atau integrasi
- Siapa yang sediakan konten dan foto
- Apakah termasuk migrasi dari website lama
- Siapa yang pegang hosting dan maintenance setelahnya
Sebagai gambaran kasar di layanan kami: landing page mulai sekitar Rp 3,5 juta, company profile mulai sekitar Rp 5 juta, toko online mulai sekitar Rp 9 juta. Rincian lain ada di halaman harga.
Kalau ada penawaran yang jauh lebih murah tanpa jelas apa yang termasuk (revisi, hosting, handover, garansi), biasanya yang terpotong adalah waktu pengerjaan, kualitas, atau dukungan setelah live.
Checklist Sebelum Bilang “Website Saya Siap”
Centang ini sebelum Anda pasang iklan atau taruh link di kartu nama:
- Tujuan website sudah jelas dalam satu kalimat
- Jenis website cocok dengan tujuan itu
- Kontak dan CTA utama mudah ditemukan di HP
- Konten tidak terasa copy-paste template generik
- Form atau WhatsApp sudah diuji dari perangkat lain
- Ada rencana siapa yang update dan siapa yang jaga teknisnya
Kalau dua atau tiga poin masih kosong, website belum siap dipakai sebagai aset bisnis. Masih berupa proyek yang kelihatan jadi.
Penutup
Cara membuat website bisnis yang paling sering gagal bukan karena tool-nya salah, tapi karena urutannya terbalik: desain dulu, tujuan belakangan, perawatan tidak dipikirkan.
Mulai dari tujuan dan jenis website. Susun konten. Baru pilih platform dan jalur pengerjaan. Setelah live, anggap website sebagai aset yang perlu dirawat, bukan file yang sudah selesai.
Kalau Anda sedang di titik “sudah tahu butuh website, tapi belum yakin jenis dan scopenya”, konsultasi gratis saja. Saya biasanya bantu memetakan dulu mana yang wajib di versi pertama, dan mana yang bisa menunggu.