PANDUAN

Harga Pembuatan Website di Indonesia 2026: Kisaran, Komponen, dan Cara Baca Penawaran

Ilustrasi penawaran harga: lembar invoice dan kalkulator untuk estimasi biaya website

Pertanyaan yang paling sering muncul setelah “bisa buatkan website?” biasanya langsung ke harga.

Masalahnya, jawaban “mulai dari sekian” tanpa konteks justru bikin bingung. Satu vendor bilang Rp 2 juta, yang lain Rp 15 juta, keduanya mengaku jasa pembuatan website. Bandingannya sering tidak apple-to-apple.

Saya tulis artikel ini sebagai kerangka baca penawaran di pasar Indonesia tahun 2026. Ada kisaran pasar yang saya lihat dari lapangan dan dari kompetitor di SERP, ada juga titik berangkat harga di Harun Studio. Saya bedakan keduanya supaya Anda tidak mengira angka pasar = angka satu vendor.

Kalau Anda masih belum yakin jenis websitenya, mulai dari cara membuat website bisnis dulu. Jenis yang salah hampir selalu bikin budget salah.

Kenapa Harga Pembuatan Website Tidak Pernah Satu Angka

“Website” itu payung besar. Landing page satu halaman untuk iklan Meta dan toko online dengan ratusan produk sama-sama disebut website, padahal effort-nya beda jauh.

Bayangkan bertanya “harga rumah berapa?” tanpa bilang luas tanah, lokasi, dan finishing. Jawabannya pasti rentang lebar. Sama di sini.

Yang menentukan harga biasanya:

  • Jenis dan tujuan website
  • Jumlah halaman dan kompleksitas desain
  • Fitur di luar halaman informasi
  • Kesiapan konten dari sisi Anda
  • Siapa yang mengerjakan (DIY, freelancer, atau tim/agensi)
  • Apa yang termasuk setelah live (hosting, maintenance, garansi, handover)

Kalau seseorang langsung kasih satu angka bulat tanpa tanya scope, biasanya ada yang disederhanakan terlalu jauh, atau ada biaya susulan yang belum dibahas.

Ringkasan Cepat: Kisaran Pasar Indonesia 2026

Ini rentang yang sering muncul di pasar (freelancer sampai agensi kecil/menengah). Bukan harga resmi siapa pun, dan bisa lebih rendah atau lebih tinggi di kasus ekstrem.

JenisKisaran pasar yang sering munculTimeline kasar
Landing pageRp 800 ribu – Rp 8 juta3–10 hari kerja
Company profileRp 1,5 juta – Rp 20 juta1–4 minggu
Toko onlineRp 3 juta – Rp 25 juta+2–6 minggu
Website custom / web appRp 15 juta – Rp 100 juta+1–3 bulan atau lebih

Di kutub paling murah: template siap pakai atau proyek “jadi dalam 2 hari” sering di bawah Rp 1–3 juta, dengan trade-off di kualitas, dukungan, atau kepemilikan.

Di kutub atas: integrasi sistem internal, portal multi-user, atau kebutuhan enterprise bisa tembus ratusan juta. Itu tetap valid, tapi bukan kebutuhan mayoritas UMKM atau bisnis menengah di fase pertama.

Satu hal yang sering luput: angka di tabel baru biaya pembuatan. Ada biaya hidup website (domain, hosting, maintenance) yang jalan terus.

Titik Berangkat di Harun Studio

Supaya transparan, ini angka awal yang biasa saya pakai di diskusi. Detail terbaru ada di halaman harga.

JenisMulai dariCatatan scope standar
Landing pageRp 3,5 jutaSatu tujuan, CTA jelas, timeline sering 3–7 hari kerja
Company profileRp 5 jutaStruktur halaman bisnis, timeline sering 1–3 minggu
Toko onlineRp 9 jutaWooCommerce siap jual, timeline standar sekitar 3 minggu
Website customRp 15 jutaFitur sesuai proses bisnis, timeline 4–12 minggu tergantung scope
Redesign websiteRp 8 jutaPerbaikan UX/performa situs existing
MaintenanceRp 1 juta / bulanUpdate, backup, monitoring, dukungan rutin

“Mulai” di sini artinya: scope standar, konten relatif siap, tanpa fitur aneh yang muncul di tengah jalan. Begitu halaman nambah banyak, ada migrasi data kotor, atau butuh integrasi, angkanya bergerak.

Untuk layanan terkait: pembuatan website, company profile, landing page, toko online, website custom.

Apa yang Sebenarnya Anda Bayar

Waktu Anda transfer sekian juta, uang itu biasanya pecah ke beberapa pos. Memahami pecahan ini membantu saat bandingkan proposal.

Biaya satu kali (di awal)

  • Discovery dan perencanaan struktur
  • Desain UI (template yang disesuaikan vs custom dari nol)
  • Development / implementasi
  • Setup teknis (staging, SSL, konfigurasi dasar)
  • Konten awal (kalau vendor yang bantu tulis atau rapikan)
  • QA di mobile dan desktop
  • Launch dan handover akses

Biaya berulang (jalan terus)

  • Domain: sekitar Rp 150 ribu – Rp 350 ribu / tahun untuk .com (.id biasanya lebih mahal)
  • Hosting: dari ratusan ribu sampai beberapa juta per tahun, tergantung shared, cloud, atau VPS
  • Maintenance: dari ratusan ribu sampai jutaan per bulan, tergantung seberapa aktif situs dan seberapa besar risiko teknisnya
  • Plugin/theme berbayar (kalau stack-nya WordPress dan lisensi diganti tiap tahun)
  • SEO berkelanjutan atau iklan (kalau Anda memang butuh traffic berbayar)

Kalau proposal hanya menuliskan “harga website” gelondongan tanpa memecah pos, Anda berhak bertanya: domain termasuk? hosting berapa lama? revisi berapa kali? akses diserahkan ke siapa?

Tiga Jalur Membuat Website dan Konsekuensi Biayanya

1. DIY (builder atau WordPress sendiri)

Biaya uang paling ringan di awal. Cocok jika Anda punya waktu belajar, risiko bisnis rendah kalau website jelek atau down, dan kebutuhannya sederhana.

Yang sering dilupakan: waktu Anda tidak gratis. Setup domain, form yang tidak masuk inbox, dan plugin konflik bisa makan malam kerja berkali-kali.

Kalau jalur ini yang Anda pertimbangkan karena AI lagi ramai, baca juga bikin website pakai AI: kapan cukup sendiri.

2. Freelancer

Biasanya di kisaran menengah. Fleksibel dan personal. Risikonya: single point of failure. Kalau orangnya hilang di tengah proyek, Anda yang pegang puing-puingnya.

Sebelum deal, minta portofolio live (URL, bukan screenshot), kontak klien lama kalau memungkinkan, dan pastikan akses domain/hosting atas nama Anda sejak awal.

3. Tim atau agensi spesialis

Lebih mahal di depan, tapi yang Anda bayar biasanya proses, accountability, dan cadangan kalau satu orang sakit. Cocok jika website terkait kredibilitas atau uang, dan Anda tidak ingin jadi project manager teknis.

Tidak ada jalur yang “paling benar”. Yang ada: paling cocok untuk risiko dan waktu Anda.

Faktor yang Paling Sering Menggeser Harga

Jumlah halaman dan kompleksitas desain

5 halaman dengan struktur jelas beda sekali dengan 20 halaman plus animasi berat. Desain “unik total dari nol” juga butuh lebih banyak putaran ketimbang sistem desain yang konsisten.

Kesiapan konten

Website molor hampir selalu karena menunggu teks, foto, atau keputusan internal. Bukan karena coding tiba-tiba sulit. Konten yang belum siap = timeline memanjang = biaya kesempatan naik, meski harga kontrak belum berubah.

Fitur di luar halaman informasi

Yang biasanya menambah biaya:

  • Katalog + checkout + payment gateway
  • Multi bahasa
  • Booking / membership / dashboard
  • Integrasi CRM, ERP, atau API pihak ketiga
  • Migrasi dari website lama yang berantakan

Website lama yang harus dibenahi dulu

Rebuild dari Elementor/WPBakery yang sudah penuh plugin sering lebih mahal daripada bangun bersih. Ada biaya audit dan migrasi yang tidak kelihatan di mockup hasil akhir. Lihat juga jasa redesign website kalau kasusnya situs existing.

Siapa yang pegang setelah live

Kalau tim Anda non-teknis dan tidak ada maintenance, risiko lambat, error, atau malware naik. Banyak orang merasa “sudah hemat” di pembuatan, lalu bayar lebih mahal di perbaikan darurat.

Simulasi Biaya Kepemilikan (bukan cuma biaya buat)

Supaya lebih konkret, ini contoh kasar. Angka bulat, untuk kerangka berpikir.

Skenario A: Landing page kampanye

  • Pembuatan: Rp 3,5 juta (titik awal kami)
  • Domain + hosting tahun pertama: Rp 0,5–1,5 juta (tergantung paket dan apakah include)
  • Maintenance ringan atau DIY update: Rp 0–1 juta / tahun

Total tahun pertama sering di kisaran beberapa juta, bukan hanya angka pembuatan.

Skenario B: Company profile B2B

  • Pembuatan: Rp 5–12 juta tergantung halaman dan desain
  • Hosting layak + domain: Rp 1–3 juta / tahun
  • Maintenance profesional (opsional): Rp 1 juta / bulan di layanan kami, atau lebih rendah/tinggi di pasar

Kalau website dipakai pitching klien serius, yang mahal biasanya bukan hosting, tapi website yang terasa murahan atau sering error saat demo.

Skenario C: Toko online

  • Pembuatan: Rp 9–25 juta tergantung katalog, payment, dan custom checkout
  • Hosting lebih serius (sering VPS): lebih tinggi dari shared murah
  • Maintenance dan keamanan: hampir wajib kalau ada transaksi

Di sini membandingkan hanya angka “buat toko” tanpa hosting dan perawatan biasanya menyesatkan.

Hitunglah anggaran setidaknya untuk 12 bulan, bukan hanya invoice pertama.

Apa yang Biasanya Termasuk vs Tidak Termasuk

Tanyakan eksplisit sebelum DP.

Sering termasuk di paket pembuatan yang sehat:

  • Desain dan development sesuai scope tertulis
  • Revisi dalam batas yang disepakati
  • Setup staging dan launch
  • Handover akses dasar
  • SEO teknis dasar (struktur, meta dasar, sitemap) kalau disebut

Sering tidak termasuk, kecuali ditulis:

  • Copywriting panjang dan sesi foto profesional
  • Iklan Google/Meta
  • SEO bulanan / link building
  • Lisensi plugin premium tahunan (kadang digeser ke klien)
  • Fitur yang baru muncul setelah kontrak ditandatangani
  • Maintenance seumur hidup “gratis”

Kalau ada yang bilang “langsung ranking 1 Google” dalam paket pembuatan murah, anggap itu red flag, bukan bonus.

Cara Membaca Penawaran Agar Adil

Saat dua penawaran selisih jauh, jangan langsung pilih yang termurah atau termahal. Cek:

  1. Scope halaman dan fitur tertulis jelas atau belum?
  2. Domain dan hosting: termasuk berapa lama, atas nama siapa?
  3. Revisi: berapa putaran, apa yang dihitung tambahan?
  4. Timeline: dihitung dari kapan (brief final, atau DP masuk)?
  5. Garansi bug setelah live: berapa lama?
  6. Handover: Anda pegang domain, hosting, dan file?
  7. Siapa yang dihubungi kalau form error seminggu kemudian?

Penawaran Rp 2 juta bisa masuk akal untuk landing sederhana dengan scope ketat. Masalah muncul kalau ekspektasinya company profile lengkap plus toko, tapi budgetnya masih di angka landing page.

Red Flag yang Sering Saya Lihat

  • Harga sangat murah untuk scope besar, tanpa rincian
  • Tidak ada portofolio live yang bisa dibuka
  • Minta bayar 100% di muka tanpa milestone
  • Tidak mau serahkan akses domain/hosting ke nama Anda
  • Janji “jadi 2 hari + ranking Google + all-in murah”
  • Komunikasi hanya lewat chat marketplace, tanpa proposal tertulis

Murah tidak otomatis jelek. Yang bahaya: murah plus tidak jelas apa yang dikorbankan.

Timeline Realistis (dan Kenapa Molor)

Kasar di lapangan:

  • Landing page: hitungan hari sampai 1–2 minggu
  • Company profile: 1–4 minggu
  • Toko online: 2–6 minggu
  • Custom: hitungan bulan

Yang paling sering memperlambat: konten belum siap, decision maker lambat approve, dan scope berubah di tengah (“tambah bahasa Inggris”, “tambah member area”).

Kalau Anda butuh cepat, perkecil scope versi 1. Lebih baik live dengan 5 halaman kuat daripada 15 halaman setengah jadi.

Budget Tipis: Mulai dari Mana?

Kalau dana terbatas, saya biasanya sarankan versi pertama yang fokus:

  • Satu tujuan utama (misalnya dapat inquiry WhatsApp)
  • Sedikit halaman, tapi jelas
  • Konten yang sudah Anda rapikan sendiri
  • Desain bersih, bukan animasi berlebihan
  • Rencana perawatan minimal (backup + update)

Nanti baru ditambah blog, portofolio lengkap, atau fitur lanjutan setelah website benar-benar dipakai.

Banyak bisnis rugi bukan karena pilih paket murah, tapi karena memaksa semua fitur masuk di launch pertama, lalu proyek tidak pernah selesai.

Pertanyaan yang Sering Muncul

Berapa harga pembuatan website yang wajar untuk bisnis?

Untuk bisnis yang butuh kredibilitas online, di pasar 2026 sering masuk akal mulai dari kisaran jutaan menengah untuk company profile yang dikerjakan serius, plus biaya domain/hosting tahunan. Di bawah itu masih bisa, tapi biasanya ada kompromi di desain, dukungan, atau ketahanan jangka panjang.

Berapa biaya pembuatan website company profile?

Kisaran pasar sangat lebar: dari sekitar Rp 1,5 juta sampai Rp 20 juta tergantung paket dan vendor. Di Harun Studio, titik awal company profile sekitar Rp 5 juta untuk scope standar. Lihat juga harga website company profile di layanan kami.

Apakah harga jasa pembuatan website sudah termasuk SEO?

Umumnya yang termasuk paling banter SEO teknis dasar. Optimasi konten berkelanjutan, riset keyword bulanan, atau link building hampir selalu terpisah. Kalau vendor mengaku “sudah termasuk SEO” tanpa menjelaskan isinya, minta rincian.

Apakah bikin sendiri lebih hemat?

Lebih hemat uang di awal, ya. Tapi waktu belajar dan risiko setup salah tetap ada biayanya. Untuk eksperimen atau situs sangat sederhana, DIY masuk akal. Untuk etalase bisnis yang terkait closing deal, selisih bayar profesional sering lebih murah daripada salah launch berulang.

Biaya apa yang harus disiapkan setelah website jadi?

Minimal domain dan hosting tiap tahun. Kalau situs aktif atau WordPress, siapkan juga maintenance (sendiri atau jasa). Detail tugas rutinya ada di panduan maintenance website.

Kenapa penawaran bisa beda jauh sekali?

Karena jenis website beda, tingkat custom beda, yang termasuk beda, dan model bisnis vendor beda. Bandingkan scope tertulis, bukan hanya angka di baris paling bawah invoice.

Penutup

Harga pembuatan website di Indonesia wajarnya bergerak mengikuti jenis website, kesiapan konten, fitur, jalur pengerjaan, dan tanggung jawab setelah live. Angka “mulai dari” baru berguna kalau Anda sudah tahu scope-nya.

Kalau Anda punya brief kasar (jenis bisnis, jumlah halaman, butuh toko atau tidak, kapan harus live, budget kasar setahun), kirim saja lewat hubungi kami. Dari situ biasanya lebih gampang bilang: ini masih di kisaran A, atau sudah masuk scope B, tanpa tebak-tebakan dari screenshot kompetitor.

Layanan terkait

Willya Randika

Willya Randika

Founder Harun Studio & web developer, blogger, serta hosting reviewer. Telah membantu pemilik bisnis meraih kesuksesan dengan design, development dan maintenance sejak 2021.