Sub Bidang
16 sub bidang training
Proyek ini menarik bukan karena desainnya saja, tetapi karena skala data yang harus ditangani sejak hari pertama sudah sangat besar.
Kliennya adalah PT Indonesia Core Values (ICV), perusahaan yang didirikan sejak 1926 dan menyediakan layanan pelatihan serta konsultasi untuk membantu perusahaan meningkatkan kompetensi tim dan efektivitas organisasi. Jadi konteks proyek ini bukan membangun identitas bisnis dari nol, melainkan memodernisasi kehadiran digital mereka dengan fondasi yang lebih siap untuk kebutuhan hari ini.
Proyek ini juga punya konteks relasi yang menarik secara personal: saya mendapatkan klien ini melalui referral. Founder ICV adalah Dr. Jeff, Founder & CEO yang memiliki pengalaman 30 tahun sebagai management consultant, trainer, lecturer, dan researcher. Latar belakang beliau menjelaskan kenapa website ini tidak bisa dibuat asal jadi. Kredibilitas layanan ICV sudah kuat, jadi website-nya juga harus terasa setara.
Di titik ini, tantangannya bukan lagi “bagaimana membuat website yang bagus”, tetapi bagaimana membangun sistem website yang masuk akal untuk volume konten yang besar, tetap ringan, dan tidak membebani klien dengan overhead teknis yang tidak perlu.
Website hasilnya bisa dilihat langsung di ICVTraining.com, jadi studi kasus ini memang merujuk ke implementasi yang benar-benar live, bukan mockup internal.
Sub Bidang
16 sub bidang training
Topik
441 topik training
Batch
4.430 batch terjadwal
Dokumen
4.905 dokumen
PageSpeed Mobile
93 Strong
PageSpeed Desktop
100 Excellent
Stack
Astro 6 + Sanity + Cloudflare Workers
Biaya Platform
Rp 0 hosting + CMS
Timeline
Selesai dalam 17 hari kerja
Jika bisnis Anda punya katalog layanan, data relasional, atau volume konten yang besar sejak awal, diskusikan dulu via konsultasi gratis supaya stack yang dipilih tidak menjadi beban di bulan-bulan berikutnya.
ICV bukan perusahaan yang butuh website sederhana dengan beberapa halaman statis saja. Dari awal, mereka sudah memiliki ruang lingkup konten yang besar:
Kalau digabung dengan relasi konten, struktur data, dan dokumen yang perlu dikelola di CMS, totalnya menjadi 4.905 dokumen.
Di titik ini, saya merasa pendekatan manual jelas tidak realistis. Mengunggah ribuan data satu per satu, lalu berharap semuanya tetap rapi dan mudah dirawat, hanya akan menciptakan beban operasional sejak hari pertama.
Data mentah yang dikirimkan klien pun memang menunjukkan kompleksitas itu sejak awal. Bukan satu spreadsheet ringkas, melainkan kumpulan dokumen dan struktur topik training yang besar dari berbagai sub bidang.

Masalah lainnya:
Jadi sejak awal saya tidak ingin membangun sesuatu yang terlihat “jadi”, tetapi diam-diam rapuh di belakang layar.
Secara umum saya tetap sangat familiar dengan WordPress, dan untuk banyak proyek WordPress masih masuk akal. Tapi untuk kasus ICV, saya menilai WordPress bukan opsi terbaik.
Alasannya bukan karena WordPress buruk. Justru sebaliknya: WordPress masih sangat relevan untuk banyak website bisnis. Namun untuk proyek ini, ada beberapa hal yang membuatnya kurang ideal:
Volume kontennya terlalu besar untuk workflow manual biasa
Ketika kita berbicara tentang ratusan topik, ribuan batch, dan struktur relasional yang terus berkembang, pendekatan “buat post lalu isi field satu per satu” tidak efisien.
Beban maintenance akan ikut naik
Jika memilih WordPress, maintenance tetap perlu dilakukan rutin. Minimal 2-3 kali per bulan untuk update core, plugin, theme, backup, dan pengecekan kompatibilitas. Untuk klien yang tidak punya tim IT, ini berarti ada pekerjaan tambahan yang seharusnya tidak perlu mereka pikirkan.
Klien tidak butuh kompleksitas plugin ecosystem
Yang dibutuhkan ICV bukan ribuan plugin, melainkan sistem yang rapi untuk konten training, batch, speaker, dan struktur topik yang saling terhubung.
Saya ingin proses import dan pengolahan data bisa dibantu AI secara serius
Dalam proyek ini, AI bukan aksesoris. AI adalah akselerator utama. Karena itu saya memilih stack yang lebih natural untuk workflow AI-assisted, baik untuk modelling schema, pemetaan data, normalisasi konten, maupun proses upload massal.
Kalau bicara dari sisi maintenance WordPress sendiri, artikel pentingnya maintenance website WordPress lebih dari sekadar klik tombol update dan panduan maintenance website juga relevan dengan konteks ICV. Bukan karena WordPress pasti salah, tetapi karena project seperti ini memang lebih nyaman jika beban maintenance rutinnya ditekan sejak awal.
Kalau ICV memilih WordPress, salah satu opsi yang paling aman memang tetap ada: menggunakan jasa maintenance WordPress bulanan. Dalam praktiknya itu tetap mungkin, karena klien memang akan menyerahkan pengembangan dan maintenance ke Harun Studio. Tetapi untuk kasus ini, saya lebih memilih solusi yang secara struktur memang lebih minim maintenance sejak awal, bukan solusi yang sejak awal sudah menuntut maintenance rutin lebih sering.
Untuk proyek seperti ini, saya butuh stack yang:
Karena itu saya memilih kombinasi Astro 6, Sanity CMS, dan Cloudflare Workers.
Salah satu hal yang menurut saya paling menarik dari stack ini adalah biaya operasionalnya yang sangat rendah.
Dengan pendekatan yang dipakai di proyek ICV:
Artinya, tidak ada biaya bulanan atau tahunan yang perlu dikeluarkan klien hanya untuk menjaga website tetap hidup. Biaya rutin yang benar-benar tetap praktis hanya domain, yang kira-kira berada di kisaran Rp 175.000 per tahun.
Buat saya, ini cukup menonjol karena dampaknya bukan hanya ke biaya, tetapi juga ke ketenangan operasional. Klien tidak perlu berpikir soal renewal lisensi theme, renewal plugin, atau biaya hosting yang terus berjalan hanya agar website tetap online.
Saya sudah cukup sering menulis dan membahas kenapa Astro menjadi pilihan utama di Harun Studio, termasuk di artikel WordPress vs Astro untuk pembuatan website dan studi kasus migrasi Harun Studio dari WordPress ke Astro.
Kalau ingin melihat sudut pandang yang lebih luas, artikel 5 prinsip fundamental website WordPress berkelanjutan juga cukup nyambung karena membahas pentingnya memilih fondasi website yang sehat sejak awal, bukan sekadar cepat jadi di permukaan.
Untuk proyek ICV, alasan memilih Astro makin kuat karena:
Astro sangat cocok untuk website content-heavy
Website ICV bukan aplikasi dashboard yang sangat interaktif di semua halaman. Sebagian besar kebutuhannya adalah menampilkan konten training, jadwal, topik, dan informasi registrasi secepat mungkin.
Output frontend-nya ringan dan cepat
Untuk katalog training yang besar, performa sangat penting. Halaman topik, halaman training, hingga jadwal tahunan harus tetap terasa ringan meski datanya banyak.
Arsitekturnya pas untuk SEO
Topik training, halaman pelatihan, dan struktur kategori seperti ini sangat diuntungkan oleh halaman yang clean, cepat, dan mudah dirender untuk search engine.
AI workflow jauh lebih natural
Di era sekarang, development dengan stack modern seperti Astro dan Next.js memang jauh lebih cepat dan lebih murah, bahkan bisa dikerjakan solo dengan bantuan AI. Untuk proyek ini, itu bukan slogan, tetapi realitas implementasi.
Integrasi dengan Sanity sudah matang
Astro dan Sanity sudah punya jalur integrasi yang sangat enak untuk dipakai. Ini memudahkan proses “menyambungkan” CMS dengan frontend tanpa friksi yang tidak perlu.
Tidak ada beban runtime PHP tradisional
Saya tidak perlu memikirkan plugin conflict, update theme, atau patch keamanan WordPress secara berkala hanya untuk menjaga website tetap sehat.
Astro memberi fondasi yang enak untuk struktur routing besar
Untuk website dengan ratusan halaman training dan relasi konten yang banyak, saya ingin struktur frontend yang predictable, modular, dan mudah diiterasi tanpa harus bertarung dengan layer abstraksi yang terlalu berat.
Biaya jangka panjang lebih masuk akal
Untuk tim kecil tanpa divisi IT, penghematan bukan hanya soal hosting, tetapi juga waktu. Semakin sedikit hal teknis yang harus disentuh rutin, semakin besar ruang tim untuk fokus ke marketing dan operasional.
Di proyek ini, Sanity adalah keputusan yang sangat menentukan.
Yang saya butuhkan bukan sekadar CMS untuk menulis artikel, tetapi content operating system yang nyaman untuk data dalam jumlah besar.
Alasan utama saya memilih Sanity:
Model data relasional jauh lebih cocok
Sub bidang, topik training, batch, pembicara, jadwal, dan formulir registrasi jauh lebih masuk akal diperlakukan sebagai dokumen yang saling terhubung, bukan sekadar post biasa.
Bulk import dan AI-assisted ingestion jauh lebih masuk akal
Klien hanya perlu memberikan dokumen sumbernya. Dari sisi saya, proses pemetaan, normalisasi, dan upload massal bisa dibangun secara sistematis dengan bantuan AI. Ini sangat berbeda dibanding pendekatan hardcode atau input manual satu per satu.
Sanity Studio di-host gratis oleh Sanity
Ini mengurangi kompleksitas teknis secara signifikan. Saya tidak perlu menyiapkan server terpisah hanya untuk CMS admin.
Free plan-nya lebih dari memadai untuk tahap awal ICV
Dari yang saya pertimbangkan pada proyek ini, paket gratis Sanity sudah sangat cukup:
Editor experience-nya tetap rapi untuk tim non-teknis
Walaupun data di belakang layar cukup kompleks, interface Sanity Studio tetap bisa dirancang agar nyaman dipakai untuk pengelolaan harian.
Yang saya suka, keputusan ini juga membuat biaya operasional tetap rendah. CMS-nya bisa tetap berjalan tanpa biaya bulanan tambahan di tahap awal, sehingga klien tidak perlu mengeluarkan biaya tahunan untuk lisensi CMS hanya agar website tetap aktif.
Berikut salah satu tampilan dashboard dan workspace di Sanity Studio yang digunakan di proyek ini:

Cloudflare Workers melengkapi stack ini dari sisi delivery, runtime, dan fleksibilitas jangka panjang.
Kalau proyeknya hanya website statis yang sangat sederhana, Cloudflare Pages juga bisa saja cukup. Tetapi untuk ICV, saya sengaja memilih Workers karena saya ingin frontend deployment, runtime logic, dan ruang untuk integrasi tambahan berada dalam satu model deployment yang sama sejak awal.
Secara praktis, keputusan ini memberi beberapa keuntungan:
Frontend tetap ringan, tetapi fondasi runtime-nya lebih fleksibel
Untuk kebutuhan hari ini, website-nya memang mostly content-driven. Tetapi jika nanti butuh endpoint ringan, transformasi request, routing khusus, atau binding tambahan, fondasinya sudah siap tanpa harus pindah platform lagi.
Delivery layer tetap modern tanpa server tradisional
Saya tidak perlu menyiapkan VPS, panel hosting, atau layer server yang harus dirawat rutin hanya agar website tetap online dan bisa berkembang.
Operasional lebih rapi dalam satu jalur deployment
Ini penting untuk vendor-managed project seperti ICV. Semakin sedikit moving parts yang perlu diawasi, semakin mudah pengelolaan jangka panjangnya.
Cocok dengan filosofi proyek ini
Klien fokus ke marketing dan operasional training. Saya fokus memastikan fondasi teknisnya stabil, cepat, dan tidak merepotkan.
Yang juga penting, hosting frontend di Cloudflare Workers tetap Rp 0, jadi fleksibilitas ini tidak dibayar dengan tambahan biaya bulanan.

Bagian ini penting karena menjadi inti percepatan proyek.
Salah satu prinsip utama saya di project ini adalah: semua tidak saya hardcode. Klien mengirimkan sekitar 441 silabus dari 16 sub bidang, lalu seluruh struktur saya bangun sebagai sistem yang saling terhubung. Artinya topik training, batch, pembicara, jadwal tahunan, dan halaman-halaman training bisa dikelola dinamis tanpa harus membuat satu per satu secara manual di kode.
Workflow yang saya gunakan bukan copy-paste manual dokumen ke CMS. Saya menggunakan Cursor AI dan Codex secara bergantian, lalu menghubungkannya dengan MCP dari Google Drive sebagai tempat dokumen sumber disimpan. Dengan pola ini, AI bisa membaca dokumen langsung dari sumbernya, membantu menyusun JSON yang sesuai schema, lalu saya upsert ke Sanity berdasarkan model data yang sudah saya siapkan sebelumnya.
Jadi alurnya kurang lebih seperti ini:
Secara struktur, dokumen yang saya modelkan mencakup hal-hal seperti sub bidang, topik training, batch training, pembicara, dan konfigurasi elemen registrasi yang terkait. Jadi AI tidak hanya membantu “mengisi CMS”, tetapi membantu memetakan relasi antar dokumen agar struktur akhirnya benar-benar bisa dipakai.
Bagian yang cukup menguras waktu justru ada di normalisasi dan validasi, misalnya:
Error yang paling realistis di proses seperti ini biasanya bukan error “AI gagal total”, tetapi error operasional seperti slug duplikat, relasi dokumen yang belum tersambung benar, atau data batch yang formatnya belum konsisten. Karena itu, workflow AI di proyek ini tetap saya perlakukan sebagai akselerator, bukan autopilot.
Dengan workflow ini, pekerjaan besar seperti ribuan dokumen tidak berubah menjadi ribuan klik manual di CMS. Tetap perlu saya tekankan: workflow AI ini bukan berarti semuanya instan. Pekerjaan ini tetap menguras waktu karena ada 441 topik training yang perlu dipublikasikan dan dicek konsistensinya. Tetapi perbedaannya sangat besar. Jika dikerjakan manual, proses upload seluruh dokumen bisa memakan lebih dari 1-2 minggu hanya untuk input kontennya saja. Dengan workflow AI-assisted seperti ini, proses tersebut bisa ditekan menjadi kurang dari 1 minggu.
Di sisi frontend, saya menyiapkan struktur halaman yang bisa melayani kebutuhan utama ICV:
Halaman topik menjadi pintu masuk penting untuk menjelajahi seluruh katalog training.

Halaman training dirancang agar setiap topik punya landing page yang rapi, informatif, dan siap dipakai untuk kebutuhan SEO maupun konversi.

Untuk volume batch yang besar, halaman jadwal tahunan menjadi komponen penting agar user bisa memahami ketersediaan training tanpa harus berpindah-pindah terlalu banyak halaman.

Karena katalog training-nya besar, search bukan fitur tambahan. Search adalah kebutuhan inti.
Saya juga menyiapkan alur registrasi agar user bisa bergerak dari eksplorasi topik ke aksi yang lebih jelas.


Buat saya, hasil terbaik proyek ini bukan sekadar website berhasil online.
Hasil paling pentingnya adalah:
ICV langsung punya fondasi website yang siap berkembang
Bukan sekadar website baru, tetapi sistem konten yang siap menangani skala besar.
Semua struktur penting bisa dikelola lewat Sanity Studio
Topik, batch, pembicara, dan konten pendukung tidak perlu ditangani lewat hardcode.
Klien tidak perlu memikirkan maintenance WordPress rutin
Ini penting sekali untuk tim yang tidak punya divisi IT internal, walaupun pengelolaan teknisnya memang akan tetap didampingi vendor.
Tim bisa fokus ke marketing dan operasional training
Waktu tim ICV lebih baik dipakai untuk menjual, menjadwalkan, dan mengembangkan program training, sementara sisi pengembangan dan maintenance website tetap bisa dikelola Harun Studio dengan beban teknis yang lebih ringan.
Project selesai cepat untuk ukuran scope sebesar ini
Dengan scope yang besar dan data yang banyak, website ini selesai dalam 17 hari kerja, yang menurut saya sangat cepat.
Saya juga menyiapkan pengecekan performa untuk memastikan website ini tidak hanya kaya data, tetapi tetap sehat dari sisi teknis.

Skor desktop yang dicapai:

Skor mobile yang dicapai:
Untuk website yang membawa katalog training besar, struktur data relasional, dan banyak halaman dinamis, hasil ini menurut saya sudah sangat sehat. Fokus saya sejak awal memang bukan mengejar angka kosong, tetapi menjaga agar website tetap terasa cepat, ringan, dan nyaman dipakai oleh user maupun tim internal.
27 Maret 2026 saya, Dr. Jeff dari SCBD Bursa Efek Indonesia Tower, Jakarta Selatan, meeting dengan Randi sbg owner dari HARUN STUDIO, untuk mendiskusikan materi terkait pembuatan web ICVTRAINING.COM dan oficially 20 April 2026 web sudah selesai.
Ulasan saya tentang performance HARUN STUDIO sbb:
Responsif dan Mobile-Friendly
Navigasi yang Intuitif dan Jelas
Kecepatan Loading Tinggi
Visual Menarik dan Konsisten
Konten Terorganisir
Keamanan dan Kepercayaan terjaga.
— Dr. Jeff
Founder & CEO ICV Training
Ada beberapa hal yang menurut saya layak dicatat dari proyek ini, justru karena tidak selalu terlihat dari tampilan akhirnya.
Data sumber hampir tidak pernah siap publish apa adanya
Waktu terbesar bukan hanya di development frontend, tetapi di normalisasi struktur dokumen dan validasi relasi datanya.
AI mempercepat ingestion, tetapi quality control tetap harus manusia
AI sangat membantu di parsing, mapping, dan drafting data. Tetapi pengecekan konsistensi tetap tidak bisa ditinggalkan kalau ingin hasil akhirnya rapi.
Keputusan stack di awal mengubah beban operasional jangka panjang
Untuk proyek berskala data besar seperti ini, memilih stack yang rendah maintenance sejak awal lebih bernilai daripada memilih stack yang cepat jalan tetapi berat dirawat setelah live.
Kalau bisnis Anda punya katalog produk, katalog training, data relasional, atau volume konten yang besar, kita bisa mulai dari audit kebutuhan dulu lalu tentukan apakah website-nya lebih tepat dibangun sebagai website biasa, headless CMS, atau sistem hybrid.
Anda juga bisa melihat hasil live-nya langsung di ICVTraining.com.
Mulai dari konsultasi gratis, lihat juga jasa pembuatan website dan jasa pembuatan aplikasi jika scope Anda sudah bergerak ke arah sistem yang lebih kompleks.
Founder Harun Studio & web developer, blogger, serta hosting reviewer. Telah membantu pemilik bisnis meraih kesuksesan dengan design, development dan maintenance sejak 2021.
Baca juga insight lain yang masih relevan dengan topik ini.
Studi kasus migrasi Penasihat Hosting: dari WordPress yang sebenarnya sudah solid ke Next.js 16 + PostgreSQL demi fleksibilitas jangka panjang, CMS kustom, tool pages, dan fondasi produk yang lebih scalable.
Studi kasus RWB Auto Shop: redesign checkout WooCommerce dengan fondasi Fluid Checkout Lite + custom PHP, JavaScript, dan CSS untuk pengalaman checkout yang lebih premium.
Dari error 404 di firesystem.co.id hingga rebuild total menjadi hydrantsystem.co.id: studi kasus pembuatan website ringan, cepat, dan mudah dikelola dengan stack WordPress modern.